Presiden ke-7 Indonesia yang khas dengan aksi blusukannya? Yup! Joko Widodo atau yang akrab disapa Jokowi. Dengan segala keunikan yang dimilikinya, tentu menarik untuk mengetahui apa sih tipe kepribadian MBTI Jokowi?
Tipe Kepribadian MBTI Jokowi
Ada 2 cara mengetahui kepribadian MBTI. Yakni melalui preferensi dikotomi dan melalui fungsi kognitif. Kita bahas satu per satu, ya!
Cara 1 : Preferensi Dikotomi
Tipe kepribadian di MBTI ditandai dengan 4 huruf yang menunjukkan preferensi atau apa yang lebih menonjol dari masing-masing 4 jenis indikator (sumber energi, pengolahan informasi, pengambilan keputusan, gaya hidup). Di mana pada setiap indikator terdiri dari 2 opsi karakteristik.
1. Sumber energi : Extrovert (E) - Introvert (I)
Ekstrovert = lebih sering mendapatkan energinya melalui interaksi sosial.
Introvert = lebih sering mendapatkan energi dengan menyendiri atau bersama dengan satu atau beberapa orang terdekat saja.
Jokowi terkenal sering blusukan dan berinteraksi dengan masyarakat. Namun dilihat dari cara Jokowi berinteraksi, yang cenderung mengucapkan kata seperlunya, kurang dapat dipastikan bahwa Jokowi adalah seorang ekstrovert.
Terlebih lagi ada keterangan dari M. David R Wijaya, rekan bisnis Jokowi di Solo dahulu, yang mengindikasi bahwa Jokowi sebenarnya adalah seorang introvert :
“Dia itu memang sudah dari dulu sedikit bicara tapi banyak kerja. Dan orangnya sangat sederhana, bahkan sampai sekarang pun tidak ada ada yang berubah dari sosok Jokowi,” dikutip dariJawapos.
Ciri orang introvert adalah seringnya fokus ke dunia batin, ke dalam dirinya. Hal ini menyebabkan mode natural orang introvert adalah tidak banyak bicara. Atau baru banyak bicara saat membahas topik yang diminati atau saat berada di situasi yang membutuhkan komunikasi verbal.
Muncul pertanyaan, jika Jokowi introvert yang artinya lebih berenergi saat sendiri atau dengan orang-orang terdekat saja, lalu kenapa Jokowi menjadi walikota, gubernur, dan presiden?
Kenapa belum menyelesaikan masa jabatan 5 tahun sebagai gubernur Jakarta, Jokowi memutuskan nyapres yang harus mengurus jumlah orang yang jauh lebih besar? Ada 2 kemungkinan :
Amanat partai PDI-P, dan atau
Keinginan dan pertimbangan Jokowi sendiri untuk dapat berbuat sesuatu yang lebih bagi kota, provinsi, dan negaranya. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh pengalaman hidup Jokowi yang sulit semasa kecil, yang mengalami pergusuran rumah sebanyak 3 kali.
2. Pengolahan informasi : Sensing (S) - Intuitive (N)
Sensing = memiliki kemampuan atau daya tangkap indrawi atau sensorik yang sangat baik.
Intuitive = memiliki kemampuan memahami pola dalam suatu konsep abstrak atau teori dengan sangat baik.
Jokowi tampak lincah dan sigap dalam bertindak. Sangat konsisten blusukan ke masyarakat, mulai dari pasar-pasar, pemukiman warga, hingga daerah terdampak bencana.
Pada masa muda, Jokowi aktif sebagai mahasiswa pecinta alam (Mapala). Dia juga menggeluti bisnis mebel sebelum terjun ke dunia politik. Sebagai pebisnis di bidang furnitur, Jokowi piawai mengolah kayu hingga finishing menjadi barang mebel siap jual.
Foto lawas Jokowi, saat merintis usaha mebel
"Selain sangat memahami jenis kayu, Jokowi juga sangat ahli dalam hal mengolah kayu. Mulai dari cara memotong kayu, memprosesnya menjadi sebuah konstruksi dan juga finishing,” kata M. David R Wijaya, rekan bisnis Jokowi di Solo.
Dari sederet keahlian dan kecenderungan Jokowi ini, besar kemungkinan dia masuk kategori seorang yang memiliki kemampuan atau daya tangkap indrawi atau sensorik yang sangat baik, atau disebut sebagai tipe Sensing.
Feeling = lebih sering mengutamakan pertimbangan perasaan dalam mengambil keputusan.
Thinking = lebih sering mengutamakan pertimbangan logika dalam mengambil keputusan.
Jika ditilik secara general, bagaimana Jokowi mengambil kebijakan dan keputusan, tampak seimbang antara pertimbangan perasaan dan logika.
Sebut saja misalnya, kebijakan Jokowi semasa pandemi covid-19 yang logis namun tetap humanis. Di mana di saat yang bersamaan, perbaikan ekonomi sekaligus penanggulangan kasus corona tetap menjadi perhatian.
Namun, sejumlah sikap Jokowi dapat diindikasi sebagai tipikal tipe feeling. Seperti bagaimana Jokowi memperhatikan Papua, wilayah Indonesia yang selama puluhan tahun menjadi daerah yang sangat jarang terjamah pembangunan, utamanya dalam segi infrastruktur.
Jokowi tampak memberikan perhatian khusus pada Papua sejak menjabat sebagai presiden. Bahkan ketika pembangunan di papua secara matematis kurang menguntungkan, Jokowi tetap memutuskan untuk percepatan pembangunan di Papua.
Ketertinggalan wilayah Papua yang jauh dibanding wilayah Indonesia lain sepertinya menggugah hati Jokowi untuk memperjuangkan keadilan untuk wilayah tersebut. Tampak pada potongan pidato Jokowi mengenai pembangunan jalan Trans Papua:
"Saya bicara Papua, bagaimana infrastruktur di Papua yang kalau kita bandingkan dengan Indonesia bagian tengah dan barat itu jomplang sekali. Akan bisa mengejar pertumbuhan ekonomi di kawasan wilayah yang lain? Nggak akan."
"Banyak yang bertanya ke saya, bapak itu membangun Trans Papua, apakah pertumbuhan ekonomi di Papua akan langsung naik? Saya bilang, apakah kita tunggu pertumbuhan ekonomi di Papua baru kita bangun jalannya? Atau kita bangun jalannya agar pertumbuhan ekonomi itu ada?"
"Orang selalu meragukan, menanyakan itu. Bapak bangun Trans Papua apakah pertumbuhan ekonomi langsung naik? Juga belum tentu, tapi ini masalah pemerataan dan masalah keadilan."
"Kalau di Jawa baru naik 500 perak saja demonya 4 bulan. Baru naik 1000, demonya 4 bulan. Coba saudara-saudara kita yang ada di pegunungan tengah di Wamena, berapa puluh tahun menikmati harga 60 ribu sampai 100 ribu, diam saja. Nggak demo, nggak bicara, coba. sedih saya melihat seperti ini."
4. Gaya hidup : Perceiving (P) - Judging (J)
Perceiving = lebih menyukai gaya hidup yang fleksibel
Judging = lebih menyukai gaya hidup yang terstruktur
Sejarah hidup Jokowi tampaknya menunjukkan bahwa Jokowi lebih menyukai gaya hidup yang fleksibel. Dilihat dari pilihan pekerjaan yang dia tekuni sebelum terjun ke politik. Yaitu saat dia keluar dari pekerjaannya di BUMN PT Kertas Kraft Aceh karena tidak betah dan ingin menyusul istri (Bu Iriana) yang tengah hamil 7 bulan.
Jokowi lalu lebih memilih untuk merintis usaha sendiri pada 1988 dengan nama CV Rakabu yang diambil dari nama anak pertamanya, Gibran Rakabuming. Meski usahanya ini mengalami naik turun, bahkan sempat kena tipu, namun tidak menyurutkan semangat Jokowi untuk tetap menjalankan usahanya hingga akhirnya sukses.
Perlu diingat, lebih menyukai gaya hidup yang fleksibel bukan berarti seseorang tidak bisa menjalani hidup yang terstruktur. Terlebih lagi, sebagai presiden, Jokowi memiliki banyak jajaran dan bawahan yang siap mengurus hal-hal mendetail dan struktural.
Jabatan Jokowi saat ini sebagai presiden memerlukan sekaligus kedua sifat ini, yakni fleksibilitas dalam merespon situasi yang terjadi di Indonesia dan strukturisasi untuk menjalankan program kerjanya.
Dengan memetakan 4 indikator MBTI pada diri Jokowi di atas, kemungkinan besar tipe kepribadian MBTI Jokowi adalah ISFP, dan kemungkinan lain ISTP.
Cara 2 : Fungsi Kognitif
Berdasarkan teori MBTI, ada 8 jenis fungsi kognitif yang menentukan bagaimana seseorang mengolah informasi dan mengambil keputusan.
Namun, masing-masing tipe MBTI dicirikan dengan 4 fungsi kognitif. Berikut tipe kepribadian MBTI beserta fungsi kognitifnya :
1. INTJ = Ni - Te - Fi - Se 2. INTP = Ti - Ne - Si - Fe 3. ENTJ = Te - Ni - Se - Fi 4. ENTP = Ne - Ti - Fe - Si 5. INFJ = Ni - Fe - Ti - Se 6. INFP = Fi - Ne - Si - Te 7. ENFJ = Fe - Ni - Se - Ti 8. ENFP = Ne - Fi - Te - Si 9. ISTJ = Si - Te - Fi - Ne 10. ISTP = Ti - Se - Ni - Fe 11. ESTJ = Te - Si - Ne - Fi 12. ESTP = Se - Ti - Fe - Ni 13. ISFJ = Si -Fe - Ti -Ne 14. ISFP = Fi - Se - Ni - Te 15. ESFJ = Fe - Si - Ne - Ti 16. ESFP = Se - Fi - Te - Ni
Sekarang mari kita telaah 8 fungsi kognitif itu pada sosok Jokowi:
Ni (introverted intuition)
Menyimpan informasi atau data abstrak, berupa ide, konsep, kesan, makna dll yang cenderung fokus pada bidang tertentu. Mampu menemukan jawaban, kesimpulan, makna tersirat, atau formula dari suatu teori atau konsep yang rumit dengan cepat.
Fungsi kognitif Ni tampak cukup ada dalam diri Jokowi, meski tidak dominan. Fungsi Ni yang sifatnya memahami secara instan, mungkin dimanfaatkan dalam membaca situasi, menyusun strategi, menemukan metode yang potensial berhasil, dan membaca karakter orang misalnya untuk memilih orang yang tepat menjadi menteri.
Contoh jelasnya juga dapat dilihat dari bagaimana dia menggunakan intuisinya untuk mengembangkan bisnis mebel. Menurut M. David R Wijaya, rekan bisnis Jokowi di Solo, Jokowi sangat tahu jenis kayu apa saja yang bisa dimanfaatkan dan laku dijual.
Foto jadul Jokowi saat berbisnis furnitur
Ada juga salah satu pernyataan Jokowi yang terkesan mampu membaca motif di balik sikap, terlepas benar atau salah. Yakni saat wacana presiden 3 periode mulai bergulir pada 2019.
"Kalau ada yang usulkan itu, ada tiga (motif) menurut saya, ingin menampar muka saya, ingin cari muka, atau ingin menjerumuskan. Itu saja," ungkap Jokowi kala itu, di Istana Merdeka (2/12/2019)
Ne (extraverted intuition)
Mengumpulkan informasi abstrak dari berbagai arah dan berbagai topik, terbuka pada banyak ide-ide baru. Sering mengalami lonjakan ide dan imajinasi, serta mampu melihat hubungan dari banyak informasi atau ide berbeda, yang jarang disadari oleh banyak orang.
Fungsi kognitif Ne pada diri Jokowi juga cukup terasa. Termanifestasi dalam sifat open-minded Jokowi terhadap metode-metode baru. Misalnya dengan menggandeng dan berkolaborasi dengan anak muda, artis, dan influencer, ide bagi-bagi sepeda, serta tampak dari sikap tolerannya.
Si (introverted sensation)
Menyimpan informasi atau data sensorik. Seperti pemandangan, suara, aroma, tekstur, rasa, dll yang ditangkap oleh panca indera. Menyukai kegiatan fisik yang berulang. Merekam dengan baik dalam ingatan apa yang diinderai sebelumnya, seperti suara, bentuk, posisi, rasa, aroma, dll.
Fungsi kognitif Si kurang dapat dilihat dari diri Jokowi. Karena Si cenderung menyukai kegiatan yang tetap. Sementara Jokowi tampak lebih menikmati bereksplorasi dengan pengalaman. Menurut asisten ajudannya, Syarif Muhammad Fitriansyah, Jokowi seringkali spontan saat kunjungan kerja.
"Banyak kegiatan yang tak terduga ya. Baru turun dari pesawat, yang seharusnya tadi istirahat, karena tadi melewati mall, tiba-tiba "saya pengen ke situ" bapak menyampaikan seperti itu. (Setelah) sampai di hotel, ke situ." dikutip dari channel Youtube Presiden Jokowi.
Foto Jokowi muda, memegang bendera Mapala Silvagama
Spontan, memilih merintis usaha dibanding menjadi pegawai tetap BUMN, menjadi anak Mapala semasa mahasiswa, sering blusukan ke tempat-tempat berbeda, cukup menjelaskan bahwa Jokowi bukan Si user, atau setidaknya fungsi Si tidak berada di posisi pertama (dominant) atau ke dua (auxiliary).
Meski begitu, fungsi kognitif Si mungkin digunakan oleh Jokowi saat merekam data sensorik yang dia amati saat mengunjungi dan mengecek ulang lokasi yang dilakukan pembangunan atau perbaikan.
Se (extraverted sensing)
Mengumpulkan informasi atau data sensorik dari berbagai pengalaman indrawi atau aktifitas fisik baru. Menyukai kegiatan-kegiatan fisik atau sensasi sensorik baru, seperti mencoba menu makanan baru. Mudah mempelajari hal baru yang berkaitan dengan praktek.
Fungsi kognitif Se terlihat sangat kental pada sosok Jokowi. Dilihat dari pembawaan Jokowi yang meski kalem tapi cukup lincah dan energik, sering blusukan ke berbagai lokasi berbeda, dan bertindak cepat untuk merealisasikan pembangunan.
Jokowi juga berani "kotor" yang menjadi khas Se user. Terlihat dari seringnya Jokowi ke pasar tradisional, pemukiman padat penduduk, lokasi-lokasi yang akan dilakukan pembangunan, hingga langsung ke daerah terdampak bencana.
Selain itu Jokowi juga sangat terbuka pada cara-cara baru untuk melakukan suatu pekerjaan. Misalnya dengan mengubah regulasi yang ribet menjadi lebih sederhana untuk meningkatkan investasi. Berbeda dengan pengguna Si yang sangat hati-hati mengubah cara yang sudah mengakar.
Masa muda Jokowi sebagai mahasiswa pecinta alam yang kerap menjelajahi pengalaman fisik baru, dan keahlian Jokowi di bidang kerajinan mengolah kayu menjadi produk mebel, juga agaknya menunjukkan sisi Se Jokowi.
Foto lawas Jokowi saat aktif menjadi anggota Mapala Silvagama
Fi (introverted feeling)
Mengambil keputusan dan membuat penilaian berdasarkan apa yang sesuai dengan nilai-nilai pribadi yang dipegang, atau apa yang selaras dengan perasaan terdalam. Introspektif dan sangat memahami emosi diri, dapat sangat berempati pada yang lemah atau yang memiliki masalah yang sama.
Fungsi kognitif Fi juga tampak kuat pada diri Jokowi. Ditandai dengan bagaimana Jokowi berani tampil beda, tidak jaim, pede dengan hidup sederhana. Momen kesederhanaan Jokowi misalnya saat bercengrama dengan warga, sampai pernah menumpang toilet sederhana milik warga untuk buang air kecil.
Jokowi punya selera sendiri yang tidak sama dengan orang kebanyakan. Misalnya menyukai musik metal, tidak pernah atau sangat jarang mengenakan jam tangan, hingga memelihara kodok. Dalam memilih menteri pun, Jokowi tampak menetapkan kualitas sendiri.
Seperti saat dia memilih mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Sebagaimana diketahui, Susi Pudjiastuti sama sekali bukan orang politik, dengan pendidikan akhir SMA. Namun karena memiliki kompetensi yang luar biasa di bidang perikanan, Jokowi pun menggaetnya sebagai menteri.
Ciri khas pengguna Fi yang empati pada yang lemah juga ditunjukkan Jokowi dengan bagaimana dia berinteraksi dengan orang-orang kecil, orang tua, dan anak-anak. Dia juga punya hobi memberi makan satwa di Istana Bogor seperti kambing, entok, dll saat sedang senggang.
Jokowi adalah Presiden RI pertama yang paling sering mengunjungi Papua dan paling serius membangun Papua. Di salah satu pidatonya, Jokowi pernah berkaca-kaca menceritakan memprihatinkannya kondisi infrastruktur dan ekonomi di Papua. Sejalan dengan sifat Fi yang sensitif terhadap ketidakadilan dan kemalangan.
Jokowi menggendong anak balita Papua, yang salah satunya juga bernama Jokowi (baju kuning) di Kampung Kayeh, Kabupaten Asmat (12/4/2018) Foto: Biro Pers Setkab
Sejumlah keputusan dan aturanJokowi juga terbilang humanis. Contohnya meminta paspampres tidak membunyikan sirine dan tidak menutup jalan saat rombongannya lewat, agar tidak mengganggu masyarakat pengguna jalan lainnya. Mempercepat bagi-bagi sertifikat tanah gratis ke rakyat contoh lainnya.
Dia juga memberikan grasi atau potongan masa tahanan kepada narapidana yang sudah uzur dan sakit-sakitan. Seperti terpidana korupsi mantan Gubernur Riau Annas Maamun meski mengundang sejumlah kritik, dan terpidana kasus terorisme Abu Bakar Ba'asyir (tapi ditolak oleh Ba'asyir karena tidak setuju menyatakan janji setia NKRI).
Jiwa seni dan budaya Jokowi yang dituangkan pada bisnis mebelnya, dan bagaimana dia mengubah kota Solo menjadi kota budaya, pariwisata, dan batik saat menjabat walikota, serta bagaimana dia memberi nama yang unik dan filosofis pada ketiga anaknya (Gibran Rakabuming Raka, Kahiyang Ayu, dan Kaesang Pangarep) juga agaknya berhubungan dengan fungsi Fi.
Foto lama Jokowi saat menjaga stannya Rakabu Style di sebuah pameran.
Fe (extraverted feeling)
Mengambil keputusan dan membuat penilaian berdasarkan apa yang selaras dengan nilai-nilai atau harapan sosial atau kelompok. Menjaga keselarasan dengan orang lain, ramah, mudah didekati, bersahabat, peduli pada keinginan atau kebutuhan orang lain.
Ada persamaan antara fungsi kognitif Fe dan Fi, yakni kepedulian kepada orang lain. Namun Fi lebih mengkhusus ke orang-orang yang tampak kasihan atau tidak berdaya, sedang Fe lebih meluas ke siapa saja di lingkup sosialnya. Keramahan Fe lebih hangat, sedangkan keramahan Fi lebih tenang.
Pengguna Fe juga cenderung membutuhkan keselarasan atau validasi sosial dan menghindari konfrontasi. Sedangkan pengguna Fi lebih independen dan memegang idealisme sehingga tak jarang berbeda dengan orang-orang pada umumnya.
Fe simpati pada banyak hal, sedangkan Fi empati pada hal-hal tertentu. Misalnya dalam menanggapi masalah kemiskinan, pengguna Fe mungkin akan menyatakan keprihatinannya, tapi pengguna Fi lah yang biasanya benar-benar tergerak menghentikan kemiskinan itu.
Kembali mengambil contoh Papua, berbeda dengan kepemimpinan sebelum-sebelumnya yang cenderung bergerak lambat membangun Papua, Jokowi lebih menunjukkan kepedulian dan keseriusannya. Mulai dari pembangunan Bandara, Trans Papua, hingga penerapan "BBM satu harga".
Jalan Trans Papua. Foto: Instagram Kementerian BUMN
Dilihat dari sikapnya, tampak bahwa Jokowi kurang menggunakan fungsi kognitif Fe ini. Karena dibanding selaras, Jokowi malah lebih sering tampak berbeda dan tidak memusingkan masalah validasi sosial. Misalnya ketika diterpa isu-isu miring tentang dirinya di masa kampanye, Jokowi tidak tampak memusingkannya.
Fungsi Fe mungkin hanya digunakan untuk keramahtamahan yang bersifat formalitas. Atau saat harus mengubah keputusannya yang mengundang kontroversi demi meredam kegaduhan.
Ti (introverted thinking)
Mengambil keputusan dan membuat penilaian berdasarkan apa yang logis dari analisis mandiri yang mendalam. Ingin diri bertindak masuk akal tapi tidak memaksakannya pada orang lain. Teliti, analitis, investigatif, memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi.
Untuk fungsi kognitif Ti, hingga saat ini, belum ada ciri yang meyakinkan yang menunjukkan ke arah sana. Malah pada 2016, Jokowi sempat menuai kritik karena dinilai tidak teliti memilih menteri ESDM yakni Arcandra Tahar yang memiliki kewarganegaraan ganda. Setelah 20 hari menjabat menteri, Arcandra pun dicopot.
Tapi mungkin saja Ti berperan dalam cara Jokowi menjaga kebugarannya dengan mengandalkan jamu dari campuran rempah jahe merah, temulawak, sereh, dan kunyit. Mungkin melalui riset tentang manfaat rempah-rempah tersebut.
Dibanding Ti, Jokowi tampaknya lebih mengandalkan Te (extroverted thinking) yakni penerapan logika secara cepat di sistem eksternal. Baik itu pada sistem bisnisnya atau pada sistem pemerintahan.
Te (extraverted thinking)
Mengambil keputusan dan membuat penilaian berdasarkan apa yang logis diterapkan pada sistem eksternal/ di luar dirinya. Ingin diri dan orang lain bertindak masuk akal, efektif, dan efisien. Kritis, target-oriented, dapat dengan cepat melihat apa yang salah dalam sistem di dunia luar.
Fungsi kognitif Te umumnya dimiliki oleh orang yang berbakat menjadi pemimpin. Meski tidak semua pemimpin pasti mengandalkan fungsi Te. Pada seorang Joko Widodo, fungsi ini terlihat dengan intensitas yang cukup.
Foto jadul Jokowi saat merintis usaha mebel
Hal ini dapat dilihat dari seringnya Jokowi menjabat sebagai pemimpin. Mulai saat dia mengembangkan CV Rakabu (sekarang PT. Rakabu Sejahtera) sejak masih muda, menjadi walikota Solo, gubernur Jakarta, hingga menjadi presiden RI, di mana kesemua kepemimpinan ini membutuhkan kapabilitas mengatur orang dan sistem eksternal.
Namun saat bergulir wacana penundaan pemilu 2024 dan presiden 3 periode, Jokowi pada 2019 sempat menolak ide tersebut dengan mengatakan "Kalau ada yang usulkan itu, ada tiga (motif) menurut saya, ingin menampar muka saya, ingin cari muka, atau ingin menjerumuskan. Itu saja."
Gaya kepemimpinan Jokowi selama memimpin terkesan lebih down to earth, langsung turun ke masyarakat. Bukan tipe pemimpin yang nyaman duduk di kursi mengendalikan dan mendelegasi. Meski demikian, sejumlah pihak menilai Jokowi kurang tegas dan plin-plan.
Salah satunya pada 2012 saat Jokowi dengan yakin menyatakan akan menuntaskan 5 tahun kepemimpinannya di Jakarta sebagai Gubernur, namun belum 2 tahun, Jokowi sudah ikut capres.
Kurang lugasnya Jokowi dalam beberapa pernyataannya, berbeda dengan Presiden Rusia Vladimir Putin yang dominan Te (ENTJ) yang tampak selalu percaya diri dan berketetapan pada setiap perkataannya. Sehingga dapat dikatakan fungsi Te pada Jokowi cukup tapi belum begitu kuat.
Dari analisis dan fakta-fakta Jokowi seperti yang dijelaskan di atas, fungsi kognitif MBTI yang sangat atau cukup kental pada sosok Jokowi adalah Se, Fi, Te, Ni, dan Ne. Sedangkan fungsi kognitif yang paling rendah yaitu Ti, Si dan Fe.
Sehingga, tipe kepribadian MBTI Jokowi kemungkinan di antaranya :
1. INTJ (Ni - Te - Fi - Se) : Pemecah masalah yang senang berbagi wawasan 2. ENTJ (Te - Ni - Se - Fi) : Eksekutif yang visioner dan kompetitif 3. ISFP (Fi - Se - Ni - Te) : Penyayang yang energik dan estetik 4. ESFP (Se - Fi - Te - Ni) : Entertainer yang modis dan tulus
Namun dengan melihat bobot fungsi Se dan Fi pada Jokowi sangat besar, opsinya mengerucut menjadi ISFP dan ESFP. Karena ESFP cenderung sangat ekspresif, sangat bergaya dan mengikuti trend. Berbeda dengan Jokowi yang kita kenal, kemungkinan yang lebih mendekati adalah ISFP.
Sejalan dengan sikap Jokowi, tipe ISFP cenderung merespon situasi kemalangan dengan tindakan atau bantuan langsung, lincah, mandiri dan memiliki motivasi diri untuk rajin dan serius berkinerja, menyibukkan diri dengan penyelesaian tugas.
Dengan fungsi Fi + Se, Jokowi dapat dikatakan introvert yang cenderung ambivert. Karena Jokowi dapat menikmati interaksi dengan masyarakat utamanya menengah ke bawah sambil menjelajah. Contoh tokoh terkenal dunia yang juga ISFP adalah Lady Diana atau Putri Diana.
Lady Diana bersama para korban ranjau darat, di Luanda, Angola.
Dengan pola yang mirip, Lady Diana juga kerap mengunjungi berbagai tempat hingga menyeberang benua demi misi kemanusiaannya. Dia tak segan berinteraksi langsung dengan anak terlantar, penderita HIV AIDS, dll. Saat berkunjung ke RS Sitalana Tangerang pada 1989, dia dengan sengaja menyentuh luka penderita kusta.
Kombinasi fungsi Fi dan Se membentuk pribadi yang meskipun perasa, namun dinamis dan cepat dalam bertindak, karena Se tidak menyukai keadaan statis. Apalagi dibantu fungsi pengaturan sistem Te, yang biasanya berkembang pada seorang ISFP dewasa.
Banyak yang berpendapat tipe kepribadian Jokowi adalah ISFJ atau ISTJ, tapi kedua tipe ini karena dominan Si (intoverted sensing) cenderung konservatif, berbeda dengan Jokowi yang senang melakukan pembaruan.
Ada pun pakaian Jokowi yang rutin putih-hitam, kemungkinan hanyalah konsep untuk membentuk ciri khas, bukan faktor fungsi Si yang kuat mempertahankan kebiasaan. Di beberapa kesempatan, Jokowi juga tampak mengenakan style pakaian yang modis dengan kaos atau jaket.
Inspilogi.com participates in Amazon affiliate marketing programs, which means we may get paid commissions on editorially chosen products purchased through our links to retailer sites.
Inspilogi.com participates in Amazon affiliate marketing programs, which means we may get paid commissions on editorially chosen products purchased through our links to retailer sites.
No comments:
Post a Comment
Apa pertanyaan atau pendapat kamu?